Jumat, 25 Januari 2008

TUHAN BERDALIH

Langkah pertama untuk menuju kegagalan adalah alasan. Kita tidak akan menjadi pecundang, sampai ketika kita menggunakan alasan. Banyak hal yang akan membuat kita berhenti melayani Tuhan. Sibuk, malas, kecewa, dan masih banyak lagi segudang alasan. Bagaimana bila yang melakukan hal tersebut adalah Allah? Dengan alasan sibuk (dan juga kecewa), Allah tidak memperdulikan doa kita (wajar saja , toh Allah punya jutaan umat yang harus dilayani). Atau Allah langsung memberi hukuman setiap kesalahan yang kita lakukan? (bisa menghemat ribuan jam pelayanan konseling serta pemulihan,lho).

Kita dapat belajar dari setiap kesalahan yang kita lakukan , apabila kita tidak sibuk membuat alasan. Ketika seorang pemenang membuat kesalahan, ia berkata ‘saya salah”. Namun apabila pecundang membuat kesalahan; ia berkata “itu bukan salah saya”. Apakah kita akan mengucapkan “saya salah’ bila terjadi kesalahan dalam kehidupan rohani kita, atau sibuk membuat alasan seperti pecundang?


Kata tidak bisa biasanya berarti kita tidak akan mencoba.

Kata tidak bisa melemahkan tekad kita.

Tidak bisa adalah musuh utama untuk menjadi berhasil dalam setiap perkara yang kita hadapi.

Allah memberikan kemampuan untuk mengerjakan segala tugas yang dipercayakan kepada kita. Bila terjadi sesuatu kesalahan atau apa yang kita inginkan tidak terjadi, saatnya untuk berdiam diri dan mencari wajah Tuhan. Bukan untuk berhenti, tetapi meminta penyertaan Tuhan untuk melakukan lebih lagi. Lagi dan lagi.

Berhenti membuat alasan! KEEP FORWARD! (Ijoel)

Mengenal Allah : Allah telah memberikan segala sesuatu untuk

membantu kita menyelesaikan pelayanan kita.

Tetap kuat : Filipi 2: 14-15

Bertindak : Saya tidak pernah memberi dan menerima alasan

(Florence Nightingale)

Kharisma atau Pengaruh?

Tujuan pelayanan adalah menjangkau jiwa-jiwa yang belum mengerti akan panggilan Allah dalam hidup mereka. Panggilan Allah perlu disampaikan kepada mahasiswa dengan cara yang sesuai dengan dunia mahasiswa. Sehingga dibutuhkan pelayan-pelayan yang cakap mengajar dan dapat dipercaya. Cakap mengajar bicara tentang hati Allah, kemampuan belajar dan di ajar, memahami panggilan dan kemampuan komunikasi yang baik, sedangkan dapat dipercaya bicara tentang gaya hidup, teladan, karakter dan komitmen.

Seringkali yang terjadi adalah pelayanan yang ada tidak dapat mengakomodasi kebutuhan mahasiswa akan nilai-nilai di atas. Sebaliknya sistem yang digunakanpun terkadang tidak tentu arah sehingga yang ada hanyalah pelayan-pelayan yang lelah dari waktu ke waktu , dari generasi ke generasi, tanpa mengalami pertumbuhan iman dan kebangunan rohani. Hasilnya , pemimpin (baca : kampus leader)yang diangkat merasa beban kesuksesan pelayanan berada di pundaknya. Hal ini mengharuskan ia berpikir keras dan berusaha tanpa henti untuk menghasilkan kesuksesan. Untuk menyenangkan semua orang, ia berlari ( terkadang tanpa tujuan) dan menghabiskan tenaga( tidak punya sumber daya ilahi dan hikmat Allah) yang pada akhirnya menghasilkan kelelahan atau terluka dan kecewa (kelesuan rohani) dan harus diganti (pembelaan diri sendiri karena merasa sudah melakukan bagiannya)

Apa yang bisa diharapkan dari pelayan yang mengalami hal-hal seperti di atas? Pelayanan yang dihasilkanpun akan terasa datar dan tumpul , padahal Allah menginginkan adanya satu pasukan yang lebih dari pemenang. Yang lebih mengecewakan adalah para pemimpin memilih ‘jalan damai’ alias mementingkan figur dirinya sebagai pemimpin ketimbang berlelah-lelah berdoa dan berpuasa agar rekan-rekan yang dilayani mengalami terobosan rohani.

Text Box: Pemimpin kampus yang seharusnya memberi pengaruh terjebak dalam keadaan kehilangan tujuan.    Hal-hal di atas membuat para campus leader lebih mementingkan charisma (penampilan luar) daripada pengaruh (penampilan dalam). Daripada mereka mengakui kelemahan mereka , maka mereka malah lebih menyukai tidak ada satupun intervensi atas pelayananan mereka. Bahkan termasuk intervensi Allah.

Gejala di atas membuat roh kepemimpinan yang Tuhan sudah berikan menjadi sia-sia. Sebaliknya iblis semakain meraja lela karena para campus leader menjadi sulit untuk fokud pada visi yang Allah berikan pada setiap kampus ( Tanpa visi , maka umatKu binasa-

Jadi apa yang harus dilakukan para Campus Leader?

1. Yakinkan diri anda bahwa anda dipilih Tuhan (Yoh 15 :16)

Anda dipilih, dan yang memilih anda tidak tanggung-tanggung Allah semesta alam. Dan panggilannya jelas, Tuhan ingin agar anda dan DIA menjadi rekan sekerja untuk memenuhi Amanat Agung ( Mat 28 : 19-20)

2. Dapatkan hati Tuhan (1 Sam 15 : 22)

Jangan mengulang dosa yang dilakukan bangsa Israel. Mereka berkali-kali melakukan pelanggaran , namun tidak juga bertobat. Dengan bertobat, maka kita akan mendapatkan hati Tuhan. 1 Samuel 15 : 22 Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.

3. Dapatkan visi Allah ( Ams 29: 18)

Tidak ada satupun pekerjaan yang bisa kita selesaikan tanpa visi Allah. Para Campus Leader harus benar-benar mengerti, bahwa mereka mengerjakan pekerjaan Tuhan. Jadi jelas, pelayanan tanpa tujuan adalah sia-sia bahkan cenderung menjadi bulan-bulanan iblis.

4. Bertindaklah ! (I Tim 4 : 12)

Begitu mendapat visi, dan anda telah yakin bahwa pelayanan ini tujuannya memuliakan Allah, maka langkah selanjutnya adalah langkah iman. Walaupun minim pengalaman atau kurang pemahaman, Allah sangat berkenan apabila para Campus Leader bersedia ditegur,diajar dan tetap berusaha melakukan yang terbaik.

So, tunggu apalagi para Campus Leader, bertindaklah!